Angka perceraian di Surabaya meningkat tajam, dipicu judi online dan pinjaman online, menghancurkan keharmonisan banyak rumah tangga.
Angka perceraian di Surabaya menunjukkan tren mengkhawatirkan, dengan masalah ekonomi sebagai pemicu utama keretakan rumah tangga. Fenomena judi online dan pinjaman online (pinjol) memperparah situasi, mendorong banyak pasangan menuju perpisahan. Kondisi ini diperkuat pola pikir masyarakat perkotaan yang realistis dan tuntutan hidup tinggi.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Surabaya.
Ekonomi Jadi Biang Kerok Utama
Humas Pengadilan Agama (PA) Surabaya, Abdul Mustofa, mengungkapkan masalah ekonomi menjadi faktor dominan penyebab perceraian. Judi online dan pinjol sering membuat pasangan tidak mampu memenuhi nafkah, bahkan meninggalkan tanggung jawab. Kondisi ini menciptakan tekanan finansial yang tak tertahankan dalam rumah tangga.
Masyarakat Surabaya, yang realistis dan berpendidikan, tidak mentolerir ketiadaan nafkah terlalu lama. Berbeda dengan pedesaan, warga Surabaya cenderung segera mencari solusi hukum jika nafkah tidak terpenuhi beberapa bulan. Hal ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam ekspektasi dan kesabaran menghadapi kesulitan ekonomi.
Selain itu, biaya hidup yang tinggi di perkotaan semakin memperburuk situasi. Pendapatan yang mungkin dianggap cukup di daerah lain, seperti satu juta rupiah, seringkali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar di Surabaya. Ini menjadikan masalah ekonomi tidak hanya sebagai pemicu, tetapi juga sebagai akselerator perceraian di kota metropolitan ini.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Pola Pikir Realistis Masyarakat Surabaya
Karakteristik masyarakat Surabaya yang realistis dan berpendidikan turut berkontribusi pada tingginya angka perceraian. Mereka memiliki standar hidup dan ekspektasi yang jelas terhadap pasangan, terutama terkait pemenuhan nafkah. Ketiadaan nafkah selama tiga bulan saja sudah cukup menjadi alasan kuat untuk mengajukan gugatan cerai.
Pola pikir ini berbeda dengan masyarakat di desa atau kabupaten lain yang mungkin lebih memilih untuk bertahan dalam pernikahan meskipun menghadapi kesulitan ekonomi. Di Surabaya, pasangan lebih cenderung mencari keadilan dan solusi hukum ketika hak-hak mereka tidak terpenuhi, terutama hak nafkah. Hal ini mencerminkan tingkat kesadaran hukum dan kemandirian yang tinggi.
Lingkungan perkotaan dengan segala tuntutannya membentuk individu yang lebih pragmatis. Ketika pernikahan tidak lagi memenuhi fungsi dasar, seperti keamanan finansial, mereka tidak ragu untuk mengakhiri ikatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai realistis lebih diutamakan daripada bertahan dalam hubungan yang tidak lagi berfungsi.
Baca Juga: Heboh! Warga Surabaya Antre Panjang di Pasar Murah, Harga Pangan Jeblok!
Tahapan Krisis Rumah Tangga Akibat Ekonomi
Abdul Mustofa menjelaskan beberapa tahapan yang mengarah pada perceraian akibat masalah ekonomi. Awalnya, kecanduan judi online dan pinjol seringkali menjadi pintu gerbang menuju masalah yang lebih besar. Kecanduan ini menguras keuangan keluarga dan mengganggu kestabilan finansial.
Selanjutnya, pasangan yang kecanduan mulai mengabaikan tanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarga. Pembiaran ini menciptakan tekanan besar pada pasangan dan anak-anak, yang kemudian merasa tidak terurus dan terlantar. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar ini menjadi pemicu konflik yang berkepanjangan.
Puncak dari serangkaian masalah ini adalah pengajuan gugatan cerai. Meskipun akar masalahnya tampak bercabang, pada akhirnya semua bermuara pada satu titik: ekonomi. Ini menunjukkan bahwa kesehatan finansial keluarga merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga.
Data Perceraian Yang Mengkhawatirkan
Data dari PA Surabaya menunjukkan angka perceraian yang konsisten tinggi. Dari Januari hingga Februari 2026, tercatat sekitar 800 kasus perceraian yang diajukan. Pada bulan Januari saja, terdapat 462 kasus, dan di bulan Februari sebanyak 429 kasus, dengan rata-rata 30 kasus perceraian diajukan setiap harinya.
Pada tahun 2025, total kasus perceraian mencapai 6.080, terdiri dari 4.468 cerai gugat dan 1.612 cerai talak. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar inisiatif perceraian datang dari pihak istri melalui cerai gugat. Tren ini mengindikasikan bahwa perempuan di Surabaya semakin berani untuk mengambil langkah hukum demi kesejahteraan mereka.
Menurut Mustofa, jumlah kasus perceraian ini tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya, dengan rata-rata 400 kasus per bulan. Konsistensi angka ini menunjukkan bahwa masalah perceraian, khususnya yang dipicu oleh ekonomi, merupakan isu struktural yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Surabaya kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Surabaya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari surabaya.kompas.com
- Gambar Kedua dari rri.co.id