Ricuh terjadi di Surabaya ketika petugas Dishub bersitegang dengan jukir akibat pembagian hasil parkir yang dianggap tidak adil.
Sosialisasi parkir digital Dishub Surabaya di kawasan Manyar Kertoarjo berujung tegang, bahkan ricuh antara petugas dan juru parkir (jukir). Benturan terjadi karena jukir menilai skema bagi hasil 60 persen untuk Pemkot dan 40 persen untuk mereka tidak adil. Konflik ini menegaskan bahwa digitalisasi parkir harus diiringi keadilan dan kepastian bagi pekerja lapangan.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Surabaya.
Sosialisasi Parkir Digital Yang Berujung Ricuh
Dishub Surabaya menggelar sosialisasi parkir digital di Jalan Manyar Kertoarjo dengan melibatkan petugas gabungan dan kepolisian. Fokus kegiatan adalah mendorong jukir mengaktifkan rekening bank untuk transaksi parkir nontunai dan memastikan program berjalan lancar.
Namun, suasana memanas ketika petugas menjelaskan pembagian pendapatan parkir. Jukir merasa tetap menanggung risiko kehilangan atau kerusakan kendaraan, sementara bagi hasil terasa merugikan mereka.
Ujungnya, dialog berubah menjadi saling dorong dan kejar antara petugas dan jukir. Meski tidak sampai perkelahian besar, insiden ini menunjukkan bahwa perubahan kebijakan harus didahului dialog yang jelas dan transparan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Syarat Jukir Untuk Mendukung Parkir Digital
Ketua Umum Paguyuban Juru Parkir Surabaya (PJS), Izul Fikri, menegaskan jukir tidak menolak digitalisasi secara prinsip. Namun, mereka menuntut keadilan dan perlindungan sebagai syarat mendukung program parkir digital.
Salah satu tuntutan utama adalah perbaikan skema bagi hasil. Jukir mengusulkan 60 persen untuk mereka dan 40 persen untuk Pemkot, bukan sebaliknya. Menurut Izul, jukir di lapangan layak mendapat bagian lebih besar karena menanggung risiko, ungkapnya kepada wartawan di lokasi, Selasa (7/4/2026)..
Mereka juga meminta agar jukir masuk BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, serta adanya asuransi kehilangan kendaraan yang ditanggung pemerintah. Tuntutan ini menegaskan keinginan agar jukir tidak lagi diperlakukan sebagai pekerja informal yang terlindas kebijakan.
Baca Juga: Heboh! Dishub Surabaya Berhentikan 600 Jukir Yang Tolak Parkir Digital
Kontroversi Penggantian Ratusan Jukir Lama
Dishub Surabaya menghentikan ratusan jukir yang tidak mendukung parkir digital dan berencana menggantinya dengan jukir baru. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk menegakkan sistem pembayaran nontunai dan mengurangi parkir liar.
Namun, jukir menilai penggantian tersebut tidak sederhana dan berpotensi menimbulkan gesekan sosial. Titik parkir yang lama dijaga sudah memiliki dinamika khusus, sehingga pergantian mendadak bisa menciptakan konflik baru.
PJS juga menegaskan bahwa proses penggantian dilakukan tanpa melibatkan paguyuban. Jukir merasa keputusan tentang nasib mereka diambil sepihak, tanpa ruang musyawarah yang memadai.
Upaya Menyeimbangkan Digitalisasi dan Kesejahteraan
Insiden di Manyar Kertoarjo menunjukkan bahwa digitalisasi parkir berjalan di garis tipis antara modernisasi dan perlindungan pekerja lapangan. Pemerintah ingin transparansi dan penertiban, tetapi tidak boleh mengabaikan keadilan terhadap jukir.
Jukir menunjukkan kesiapan mendukung parkir digital selama ada skema yang adil, perlindungan sosial, dan aturan yang jelas. Mereka sadar bahwa era nontunai sulit dihindari, tetapi berharap keputusan dibuat bersama, bukan searah.
Ke depan, digitalisasi perlu diiringi dialog terbuka antara Dishub, PJS, dan jukir di lapangan. Dengan format yang lebih inklusif, Surabaya bisa menjadi contoh bagaimana layanan publik berubah tanpa mengorbankan pekerja terbawah.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Surabaya kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Surabaya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari kejadiansurabaya.info