Posted in

Hilang Misterius, Jemaah Haji Surabaya Akhirnya Ditemukan Tak Bernyawa

Jemaah Haji asal Surabaya yang dilaporkan hilang selama 11 hari di Mina dan akhirnya ditemukan meninggal dunia, menjadi sorotan dan pelajaran berharga bagi banyak pihak.

Hilang Misterius, Jemaah Haji Surabaya Akhirnya Ditemukan Tak Bernyawa

Mina, Arab Saudi Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah jutaan manusia yang memadati ritual suci, terkadang ada kisah-kisah yang menyayat hati, salah satunya adalah hilangnya jemaah .

Hilang di Tengah Keramaian Mina

Adjar Marsudi, jemaah haji berusia 77 tahun dari Surabaya, pertama kali dilaporkan menghilang di Mina, Arab Saudi, pada Sabtu, 7 Juni 2025. Kejadian ini berlangsung saat Adjar sedang mabit di Mina, sebuah prosesi penting dalam ibadah haji yang memerlukan jemaah untuk bermalam di tenda-tenda di area Mina. Ia hilang dari tenda Maktab RKN 38 sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat.

Kabar hilangnya Adjar sontak menimbulkan kekhawatiran besar. Terutama mengingat usianya yang sudah lanjut. Tim pencari dari berbagai pihak segera dikerahkan untuk menemukan Adjar di tengah lautan jemaah dan kompleksitas area Mina.

Proses pencarian ini menjadi sangat mendesak karena kondisi Adjar yang diketahui memiliki riwayat demensia. Kondisi ini tentu menjadi faktor penyulit yang signifikan dalam upaya pencarian, karena jemaah yang mengalami demensia cenderung lupa arah dan bisa tersesat dengan mudah.

Pencarian Maraton Selama 11 Hari

Selama 11 hari penuh, tim pencari bekerja tanpa lelah. Setiap sudut Mina dan area sekitarnya disisir, informasi dikumpulkan, dan harapan terus dipupuk. Pencarian ini bukan tugas yang mudah. Mina adalah sebuah kota tenda yang luas dan padat selama musim haji, dengan jutaan jemaah yang bergerak. Menemukan satu orang di antara kerumunan besar itu membutuhkan koordinasi yang luar biasa dan ketekunan yang tinggi.

Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah dan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi turut serta aktif dalam upaya pencarian ini. Mereka berkoordinasi dengan otoritas setempat, menyisir rumah sakit, posko kesehatan, dan area-area yang mungkin didatangi jemaah yang tersesat. Keluarga di Tanah Air pun pasti diliputi kecemasan mendalam, menanti kabar baik dari setiap upaya pencarian.

Baca Juga: Surabaya Darurat Buaya? Fenomena Kemunculan Predator di Surabaya

Ditemukan Meninggal Dunia 8 Kilometer dari Mina

Setelah pencarian yang panjang dan melelahkan selama 11 hari, kabar duka akhirnya datang. Adjar Marsudi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Lokasi penemuan jenazah Adjar sangat jauh dari tenda awal ia menghilang, yakni sekitar 8 kilometer dari Mina.

Penemuan jenazah Adjar Marsudi di lokasi yang cukup jauh ini mengindikasikan bahwa ia mungkin berjalan tanpa arah yang jelas. Kemungkinan besar karena kondisi demensia yang dideritanya. Jarak 8 kilometer bukanlah jarak yang dekat. Apalagi bagi seorang lansia berusia 77 tahun. Terlebih di tengah cuaca ekstrem dan medan yang tidak familiar. Penemuan ini menjadi akhir yang pilu bagi keluarga dan seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian.

Refleksi dan Pelajaran Penting

Kasus Adjar Marsudi bukan yang pertama terjadi. Setiap tahun, ada saja laporan jemaah haji yang hilang. Terutama mereka yang berusia lanjut atau memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti demensia. Misalnya, pada tahun 2023, seorang jemaah haji asal Probolinggo bernama Niron Sunar Suna (77) juga sempat hilang setelah lempar jumrah di Mina dan akhirnya ditemukan meninggal dunia. Ada juga kasus Niron dari kloter 65 embarkasi Surabaya yang terpisah dari rombongannya di Mina pada 29 Juni 2023.

Kisah-kisah ini menegaskan beberapa pelajaran penting bagi penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang:

  • Pendampingan Khusus bagi Lansia dan Jemaah Berkebutuhan Khusus: Jemaah lansia, terutama yang memiliki riwayat penyakit seperti demensia. Memerlukan pendampingan yang sangat ketat dan khusus. Petugas haji atau anggota keluarga yang mendampingi harus memastikan bahwa jemaah tersebut tidak pernah terlepas dari pengawasan, bahkan untuk sesaat pun.
  • Edukasi dan Informasi yang Jelas: Seluruh jemaah, khususnya lansia, perlu diberikan edukasi yang sangat jelas mengenai titik pertemuan, jalur evakuasi, dan prosedur jika tersesat. Informasi ini harus disampaikan secara berulang dan dalam format yang mudah dipahami.
  • Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan teknologi seperti gelang pelacak GPS atau aplikasi seluler untuk memantau lokasi jemaah bisa menjadi solusi inovatif untuk mencegah kasus serupa di masa depan.
  • Respons Cepat dan Koordinasi Efektif: Pentingnya respons yang cepat dari tim pencari dan koordinasi yang efektif antara PPIH, KJRI, dan otoritas setempat sangat krusial dalam kasus-kasus jemaah hilang.

Untuk informasi terkini dan lengkap mengenai berbagai kejadian penting di Surabaya. Termasuk insiden keamanan dan bencana alam, kalian bisa kunjungi Info Kejadian Surabaya sekarang juga.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari radarsurabaya.jawapos.com