Ayah balita berusia 4 tahun di Surabaya, KRN, mengungkap awal mula menitipkan anaknya kepada paman dan bibi yang menyiksa korban selama dua bulan.
Anak malang ini dibotaki dan dipaksa makan makanan kucing, hingga mengalami trauma berat. Dandi Pratama Putra berharap pelaku dihukum berat dan anaknya mendapatkan pemulihan psikologis. Kasus ini menjadi peringatan bagi orang tua untuk tetap waspada.
Berikut ini Adalah kumpulan informasi terbaru dan paling menarik dari Info Kejadian Surabaya.
Tragedi Balita 4 Tahun di Surabaya, Diduga Disiksa Keluarga
Seorang balita berusia 4 tahun berinisial KRN di Lakarsantri, Surabaya, diduga menjadi korban penganiayaan oleh paman dan bibinya sendiri. Anak malang ini dikabarkan disiksa selama kurang lebih dua bulan terakhir, hingga dibotaki dan dipaksa diberi makanan kucing. Kejadian ini menghebohkan warga setelah kabar penyiksaan tersebar.
Ayah korban, Dandi Pratama Putra, menceritakan awal mula anaknya dititipkan kepada pelaku. Dandi bercerai dengan istrinya, dan sejak itu KRN tinggal bersama neneknya di Tambak Asri, Surabaya. Namun, pada Oktober 2025, adiknya, Sellyna Adika Wahyuni, meminta izin untuk merawat KRN agar menjadi teman di rumah kos.
Karena pelaku adalah keluarga dekat, Dandi mengaku tidak menaruh curiga pada awalnya. Ia kerap menghubungi KRN melalui telepon, namun belakangan sering ditolak oleh pelaku saat ingin melakukan video call. “Dia bilang anak sedang bermain, kadang alasan diajak suami atau bermain dengan tetangga,” ungkap Dandi.
Kecurigaan Ayah Terhadap Anak yang Dititipkan
Menurut Dandi, komunikasi dengan KRN mulai terputus sekitar dua bulan sebelum kasus ini terungkap. Ia mengaku jarang bisa melakukan video call, bahkan saat terhubung, pelaku enggan menunjukkan anaknya. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bagi ayah korban, meskipun ia masih berharap keadaan baik-baik saja.
Dandi pun berencana untuk mengunjungi rumah kos milik adiknya. Namun niat itu terpaksa diurungkan karena keterbatasan transportasi, sehingga ia hanya bisa mengirim uang jajan untuk anaknya. Ketidakmampuan untuk memantau langsung KRN membuat Dandi semakin cemas dengan kondisi anaknya.
Sementara itu, tetangga sekitar sempat curiga dengan perubahan fisik dan perilaku anak. Balita tersebut terlihat sering murung, rambutnya dicukur, dan pola makannya aneh. Warga kemudian melaporkan dugaan penyiksaan ke pihak berwenang, hingga akhirnya kasus ini terbongkar.
Baca Juga: Harga Daging di Surabaya Bikin Dompet Menjerit Jelang Lebaran, Ini Dia Biang Keroknya!
Kondisi Balita Pasca Kekerasan dan Dampak Psikologis
Setelah berhasil diselamatkan, KRN menunjukkan tanda-tanda trauma berat. Anak berusia empat tahun ini tampak takut terhadap orang dewasa dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Psikolog anak yang meninjau kasus ini menyebut perlakuan yang diterima KRN dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
Dandi menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi anaknya yang sempat berada dalam pengawasan orang yang seharusnya merawatnya. Ia menegaskan bahwa perilaku pelaku bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menghancurkan masa depan KRN sebagai anak kecil yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang.
Kepolisian setempat kini tengah mendalami kasus ini, termasuk memeriksa kronologi dan bukti-bukti yang ada. Tujuannya adalah memastikan pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal dan korban menerima perlindungan serta pemulihan psikologis.
Permintaan Hukuman Berat dan Harapan Keadilan
Dandi berharap kedua pelaku dihukum berat sesuai dengan perbuatan mereka. Ia menekankan pentingnya keadilan demi melindungi anak-anak lain dari tindakan serupa. “Saya ingin pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya. Anak saya harus aman dan bisa pulih dari trauma,” ujarnya.
Selain itu, Dandi mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap anak-anak yang dititipkan, bahkan kepada anggota keluarga dekat. Ia menegaskan bahwa kasih sayang dan pengawasan orang tua tetap menjadi hal utama untuk memastikan keselamatan anak.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari news.detik.com