Pemerintah Kota Surabaya menerapkan kebijakan “Gerakan Tanpa Gawai” pada sore hari sebagai upaya melindungi anak dan keluarga.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meluncurkan kebijakan “Gerakan Surabaya Tanpa Gawai” yang berlaku setiap hari pukul 18.00–20.00 WIB. Kebijakan ini disampaikan pada Selasa (14/4/2026) sebagai upaya mengurangi dampak negatif penggunaan gawai berlebihan pada anak dan keluarga. Program ini menjadi bagian dari regulasi untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital.
Temukan berbagai informasi menarik dan bermanfaat untuk menambah wawasan Anda, hanya di Info Kejadian Surabaya.
Isi Kebijakan Gerakan Tanpa Gawai
Gerakan Surabaya Tanpa Gawai mengajak warga khususnya orang tua dan anak untuk tidak menggunakan gawai selama dua jam sore, yaitu pukul 18.00–20.00 WIB. Waktu ini dipilih karena biasanya menjadi masa transisi antara pulang kerja/sekolah dan aktivitas malam di rumah. Tujuannya agar keluarga bisa memanfaatkan momen tersebut untuk berinteraksi langsung tanpa gangguan layar.
Kebijakan ini dikaitkan dengan perlindungan anak dari konten negatif, perundungan siber, dan kecanduan layar. Eri menekankan bahwa batas waktu 18.00–20.00 WIB bukan larangan mutlak, tetapi “waktu wajib berkualitas” tanpa gawai bersama keluarga. Orang tua diminta menjadi teladan dengan ikut membatasi penggunaan ponsel dan media sosial di jam tersebut.
Selain itu, gerakan ini juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk meningkatkan kesehatan mental dan kualitas hubungan dalam rumah tangga. Aktivitas seperti makan bersama, bercerita, bermain, atau membaca buku tanpa gawai diharapkan bisa menggantikan kebiasaan yang selama ini didominasi layar.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Kaitannya Dengan Surat Edaran Penggunaan Gawai
Kebijakan tanpa gawai sore hari diperkuat oleh Surat Edaran (SE) Wali Kota Surabaya Nomor 400.2.4/34733/436.7.8/2025 tentang Penggunaan Gawai (HP) dan Internet untuk Anak. SE ini menegaskan bahwa penggunaan gawai dan internet oleh anak perlu dibatasi dan dikelola oleh orang tua.
Dalam SE tersebut Pemkot Surabaya mengimbau agar orang tua memantau konten, durasi, dan situasi saat anak menggunakan gawai. Pemerintah juga mendorong pembatasan akses gawai di malam hari serta memastikan bahwa anak tidak lagi menggunakan ponsel menjelang tidur.
Gerakan 18.00–20.00 WIB praktis menjadi implementasi konkret dari SE tersebut. Dengan menetapkan satu “jam berkualitas tanpa gawai bersama keluarga”, Pemkot memberi kerangka waktu yang jelas bagi warga. Langkah ini sekaligus mengingatkan bahwa kontrol digital bukan hanya urusan sekolah, tetapi tanggung jawab bersama orang tua dan lingkungan.
Baca Juga: Titik Rawan Vandalisme di Surabaya Jadi Sorotan Satpol PP, Ada Apa?
Tujuan Perlindungan Anak dan Keluarga
Alasan utama di balik kebijakan ini adalah meningkatkan perlindungan anak dari dampak negatif ruang digital. Banyak data menunjukkan risiko kecanduan gawai, paparan konten berlebihan, dan perundungan daring yang berdampak pada kesehatan mental anak. Pemkot Surabaya ingin menghadirkan mekanisme pencegahan yang sederhana namun masif.
Dengan gerakan tanpa gawai, Pemkot berharap anak-anak bisa lebih banyak berinteraksi langsung dengan orang tua, saudara, dan anggota keluarga lainnya. Komunikasi tatap muka dinilai penting untuk membangun empati, rasa percaya diri, dan ketahanan psikologis. Waktu dua jam sore diharapkan menjadi “ruang aman” tanpa distraksi layar.
Selain anak, keluarga secara keseluruhan juga menjadi target kebijakan. Hubungan suami–istri, orang tua–anak, dan saudara bisa lebih hangat jika tidak terselubung oleh ponsel. Gerakan ini bertujuan memulihkan kualitas interaksi sosial dalam rumah tangga, yang selama ini kerap tergerus oleh kebiasaan digital.
Sosialisasi dan Respons Warga
Pemerintah Kota Surabaya telah mulai melakukan sosialisasi melalui sekolah, forum kegiatan keagamaan, dan kegiatan RT/RW. Pemkot bekerja sama dengan dinas pendidikan, dinas sosial, serta tokoh masyarakat untuk menyampaikan maksud dan manfaat gerakan tanpa gawai.
Respons warga bervariasi, ada yang mendukung karena melihat manfaatnya bagi keluarga, namun ada juga yang mempertanyakan aspek pelaksanaan teknis dan pengawasan. Namun secara umum, banyak orang tua dan guru menilai kebijakan ini realistis karena sifatnya mengajak, bukan memaksa, dan memberi ruang keluarga menyesuaikan pola hidup digital masing‑masing.
Ke depan, gerakan ini bisa menjadi fondasi untuk budaya hidup digital yang lebih sehat di Surabaya. Jika dapat dijalankan secara konsisten, waktu 18.00–20.00 WIB tanpa gawai bisa membentuk kebiasaan baru yang lebih seimbang antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Dapatkan update terkini, berita terpercaya, dan informasi pilihan tentang Surabaya kami hadirkan setiap hari spesial untuk Anda, hanya di sini Info Kejadian Surabaya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari jatim.viva.co.id